Prof DR, dr Grace Kandou Mkes
Saat melakukan jumpa pers
Manadosatunews-Manado, Prof DR, dr Grace Kandou Mkes, selaku Dekan di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Menyatakan bahwa "Saya bukan Pencuri, Persoalan yang diissukan ini, membuat keluarga saya sangat terganggu maka dengan kejadian ini saya akan mencari keadilan, saya juga telah berusaha sangat sabar, Ku serahkan semuanya ketangan Tuhan apa yang akan terjadi kedepan" ungkap wanita yang tampil kalem ini.


Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Provinsi Sulawesi Utara Prof Grace Kandou membantah dengan adanya tudingan bahwa dirinya melakukan plagiat terhadap salah satu karya ilmiah. Dan, dirinya berharap ada keadilan. Pun, Kandou yang dikenal dekat oleh Pers ini menilai tudingan sama sekali tidak memiki dasar jelas. "Tudingan ini sama sekali tidak benar. Sangat disesalkan ini terjadi di salah satu universitas terbesar di Indonesia. Cara menjegal saya seperti ini bukan hanya merusak reputasi saya tapi sudah merupakan fitnah dan pencemaran nama baik, karena itu saya memilih untuk mem-PTUN kan persoalan ini," papar Grace.

Dijelaskan juga, sebenarnya SK 1132 itu otoplagiat. Nah, untuk otoplagiat misalnya dibenarkan pun tidak melanggar aturan dalam salah satu persyaratan yang mengatakan tidak melakukan plagiat. Dirinya menjelaskan, jurnal yang diasumsikan plagiat adalah keliru. Karena itu diangagap mempublikasi ganda antara jurnal kesmas dan prosiding. Sementara katanya, ternyata prosiding tidak digunakan dalam perolehan angka kredit untuk pengusulan guru besar. "Itu waktu sementara berproses di bagian SDM. Telaah kembali dan melihat kembali. Sampai mereka mengatakan kenapa harus keluar SK ini. Nah, itu yang menjadi novum untuk kita menggugat," terangnya.


Dirinya merasa dalam keputusan ini pun tidak ada keadilan. "Ini sangat merugikan dan dizolimi. Bahkan ini merusak nama baik saya dan bahkan keluarga saya merasa dirugikan," ujarnya.



Dia mengatakan, putusan PTUN yang memenangkan gugatannya sudah ada. Di samping itu, dalam pertimbangan PTUN disebutkan dalam juklak MA RI nomor 224/TD/TUN/1993 tgl 14 Oktober 1993 bahwa penundaan/penanguhan pelaksanaan  putusan terhadap objek yaitu sk. 1132 Rektor 2013, maka   pejabat PTUN (dalam hal ini Rektor dan atau Panitia Pilrek)dilarang menerbitkan  keputusan - keputusan baru kecuali terdapat penetapan lain oleh Pengadilan.
 "Itu putusan hukum. Jangan dilawan. Sebagai warga negara yang taat hukum saya telah melalui prosudur dan itu diterima oleh PTUN. Ini juga harus dijalankan bukan hanya oleh Senat Unsrat tapi juga Kemenristek Dikti. Ada dua substansi putusan PTUN yakni, pertama menerima gugatan saya mengenai penangguhan SK penundaan pengusulan guru besar oleh pihak Unsrat. Dan kedua, saya oleh PTUN dinyatakan tidak melakukan plagiat," jelasnya.
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments:

Terima kasih telah membaca berita MSN.com silahkan tinggalkan komentar Anda.

Komentar yang mengandung unsur SARA / Porno dan Dapat menyinggung perasaan orang lain akan dihapus oleh redaksi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.